Pilihannya Hanya Dua: Jadi Tukang Telat atau Si on time!

oleh Nisa Nur Fauziah

Mungkin telat sudah menjadi sebuah rutinitas menjelma budaya bagi saya, anda, kita. Kita juga telah sama-sama “berlapang dada” sepertinya menerima label seperti itu. Toh, tidak ada masalah dengan budaya telat ini, banyak yang mengetahuinya, menjadi oknumnya, dan kita menerimanya. Lalu sampai kapan budaya telat ini hinggap di label kita, di label negeri kita?Entahlah, sampai kita sama-sama menyadari bahwa telat itu benar dan atau salah.

Masalahnya satu: telat itu salah!

Budaya telat itu salah, tidak peduli seberapa besar penerimaan kita, seberapa besar sikap toleransi yang kita tunjukkan. Terlalu banyak rasa tidak enak yang mencuat saat kita telat, bersalah kepada orang yang diajak ketemu, bersalah kepada suatu acara atau lembaga, bersalah kepada waktu, setidaknya merasa kecewa dengan diri sendiri. Kalaupun hal itu tidak kita rasakan lagi saat ini, boleh jadi itu karena kita terlalu sering mengacuhkan “alarm” hati yang berteriak-teriak saat kita telat. So, jadilah ia soak dan mati. Dan telat, statusnya tetap salah.

Fenomena telat ini menjamur subur di alam bangsa kita, tidak hanya ibu rumah tangga, pejabat, karyawan, mahasiswa semuanya cukup dekat dengan budaya ini. Ada-ada saja cerita miris seputar jam karet. Bahkan hal ini juga melanda kaum intelek muda, kita, mahasiswa. Seorang mahasiswa adalah makhluk cerdas yang telah memasuki usia dewasa muda. Mereka memiliki kemampuan berpikir yang cukup intelek dan kritis, terutama terkait dengan hal-hal berbau “salah”. Mahasiswa katanya dekat dengan hal-hal yang bersifat inovatif dan kreatif.

Semangat pembawa perubahan, kental berputar-putar dalam jiwa-jiwa muda bangsa ini. Dalam kasus budaya telat, pandangan yang dilontarkan pun cukup ‘logis’, seperti yang diungkap salah satu mahasiswa psikologi yang mengatakan “Masalahnya, budaya telat ini sudah mewabah, orang yang awalnya tidak telat, lama-lama jadi conform dengan lingkungan.” Budaya telat bagaikan lingkaran setan. Seseorang malas datang ontime karena toh yang lain telat, akhirnya yang terjadi masuklah ia dalam barisan geng telat. Energi konformitas yang cukup pekat.

Lebih lanjut lagi, seorang mahasiswa FMIPA Departemen Fisika 2005 memaparkan pendapatnya “Emm.. gimana ya… masalahnya dosennya sendiri yang mendoktrin jangan telat, datangnya telat setengah jam, ya kita mahasiswanya mengikuti keadaan.” Atau mahasiswa ekonomi yang tersenyum prihatin lalu berkata “|Itu udah habit, susah!”

Ya, habit yang melanda kaum intelek ini sebenarnya adalah masalah serius yang tidak disikapi dengan sama seriusnya oleh masing-masing diri kita. Potensi, kemampuan, pikiran, dan gerakan yang dimiliki mahasiswa “sedikit” tidak optimal hanya karena jam karet, apapun alasannya. Misalnya saat kita hendak aksi menuntut sebuah perubahan yang lebih baik, persiapannya aksi saja bisa telat sampai 2 jam, jadi wajar kalau akhirnya aksi kita pun tidak optimal.

Atau seorang mahasiswa yang sayangnya terlambat masuk kuliah sehingga kehilangan beberapa paragraf kalimat “sakti” dosennya di awal perkuliahan. Kalau tetap menjadi habit, memasuki dunia profesi kelak, lucu sekali saat kita temukan seorang dokter yang tidak bisa menangani pasiennya yang terkena serangan jantung karena telat beberapa detik, atau pengusaha yang gagal menjalin kerja sama karena telat datang rapat. Sehingga beragamnya apologis yang kita tuturkan tidak dapat merubah statement bahwa telat adalah sebuah kesalahan.

Pepatah bijak mengatakan “Kalau anda tidak mau berusaha keluar dari gelapnya kesalahan, maka jangan berharap dapat merasakan terangnya kebenaran.” Budaya telat merupakan kesalahan kolektif insan-insan di bumi pertiwi ini, namun perlu disadari juga bahwa budaya telat merupakan akumulasi dari kesalahan-kesalahan individu yang tidak mendapatkan sanksi. Terlepas dari masalah sanksi, mari kita selesaikan terlebih dahulu dari kesalahan individunya. Dan itu terkait dengan diri kita. Apakah anda ingin tetap menjadi seorang tukang telat yang tentunya bersalah atau maukah anda beralih status menjadi si on time? Keputusan itu yang harus kita tentukan dahulu, dan mari kita putuskan bersama.

Setelah itu, tahapan kedua adalah berusaha komitmen yang diiringi dengan usaha. Di sini ada banyak tantangan yang bermunculan, mulai dari alasan macet sehingga telat datang, alasan belum mendapat inspirasi ketika telat mengumpulkan tugas, atau alasan apologis lainnya, ditambah budaya telat yang menjadi habit. Perlu usaha dan perlu proses, ditambah semangkuk kesabaran. insyaAllah bisa kok!

Kita tidak akan pernah bisa melakukan perubahan jika kita tidak yakin dengan apa yang kita inginkan. Dan langkah awal biasanya adalah langkah paling berat melebihi langkah-langkah setelahnya. Jadi teorinya, setelah memutuskan status apa yang hendak kita pakai, langkah di awal komitmen kita mungkin akan terasa berat, tapi tidak akan lama kok, karena tak lama kemudian, kita bisa menikmati sedapnya ontime, rasa tenang, tidak stres karena diburu-buru, atau merasa bersalah. Siapa yang tidak mau?

Apalagi dengan jiwa-jiwa perubah peradaban yang kita miliki, penuh dengan aliran dan gelegak semangat. Seharusnya saat kita merasa mampu melakukan perubahan-perubahan besar di negeri ini, maka hal itu tentunya dimulai dari hal-hal kecil namun sangat esensi. Salah satunya adalah disiplin terhadap waktu. Jadi, bagaimana kalau kita coba dari sekarang, kawan?

sumber : http://salam.ui.edu/

3 responses to this post.

  1. Posted by the riza de kasela on 18 November 2009 at 05:34

    Memang susah untuk nggak telat
    Udah bangun pagi aja kadang2 tetap telat
    ______________________________________________
    Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

    Balas

  2. I simply had to appreciate you again. I’m not certain the things I could possibly have accomplished in the absence of the type of information provided by you over my field. Certainly was a very distressing dilemma for me personally, nevertheless observing this well-written strategy you treated the issue forced me to jump over happiness. I am just happy for this advice and in addition sincerely hope you really know what a great job you have been doing educating men and women all through your blog. More than likely you haven’t met all of us.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: